Hai, gimana kabarnya? Saya tidak baik-baik saja semenjak pertengahan bulan Juli, saya yakin kamu tau itu.
Setelah bulan Juli selesai, sudah juga saya melewati bulan Agustus, sekarang sudah ingin memasuki bulan kedua saya akrab dengan kesunyian. Tbh, tidak begitu sunyi, saya banyak kenalan dengan orang baru di sini dan bertemu teman lama yang kebetulan ada di kota ini. Tapi saya masih merasa sepi, mungkin jiwa saya masih terjebak di bulan Juli. Terjebak dalam kisah singkat dengan sejarah yang begitu melekat.
Semesta cemburu padamu, tuan. Dia tau saya begitu mencintaimu, semesta memilih memisahkan dari sekian banyaknya cara. Perlahan saya menghargai itu, pun, menghargai kamu. Saya harus melepaskan orang yang masih ingin saya miliki, kamu pergi saat saya berusaha jadi yang terbaik.
Maaf untuk saya masih berusaha mencarimu, maaf sudah membuang waktumu, dan maaf saya jahat.
Terima kasih untuk rasa yang telah kamu berikan ke saya, terima kasih sudah menjadi bagian proses pendewasaan saya, dan terima kasih sudah sempat menjadi kebahagiaan yang saya harapkan berujung sempurna untuk ke depan, meskipun tidak demikian.
Saya mencarimu agar kita berbicara berdua seperti apa yang biasa kita lakukan, tidak apa-apa jika untuk terakhir kali, karena jika meminta kamu hadir dengan kenangan yang lebih hebat, saya tidak mau menunda perpisahan, saya tidak lagi mau menyakitimu lebih jauh.
Tuan, kamu tau saya menunggumu, namun pilihlah yang terbaik untuk mendampingi dirimu.
Dari kejauhan ini, saya mencintaimu. Teruslah menjadi hebat seperti yang saya tau, saya selalu mendukung mimpimu.
Kamu satu-satunya alasan saya mulai nyaman dengan kesendirian, please don't do what I did.
Ohiya, apakah kamu tau bagaimana rasanya rindu tanpa bisa berbuat apapun?
– Your Pluto, K.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar